KONSEP
DASAR DAN ASPEK-ASPEK GEOMORFOLOGI
MATA
KULIAH
GEOMORFOLOGI
DISUSUN
OLEH :
I
KADEK AGUNG TIRTAYASA
471
417 023
PROGRAM
STUDI TEKNIK GEOLOGI
JURUSAN
ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
UNIVERSITAS
NEGERI GORONTALO
2018
Pengertian
Geomorfologi
Geomorfologi merupakan ilmu tentang roman/bentuk
muka bumi beserta aspek-aspek yang mempengaruhinya. Kata Geomorfologi
(Geomorphology) berasal bahasa Yunani, yang terdiri dari tiga kata
yaitu:Geos (erath/bumi), morphos (shape/bentuk), logos (knowledge atau
ilmu pengetahuan). Berdasarkan dari kata-kata tersebut, maka pengertian
geomorfologi merupakan pengetahuan tentang bentuk-bentuk permukaan bumi.
Menurut Worcester (1939), geomorfologi merupakan
diskripsi dan tafsiran dari bentuk roman muka bumi. Definisi Worcester ini
lebih luas dari sekedar ilmu pengetahuan tentang bentangalam (the science of
landforms), sebab termasuk pembahasan tentang kejadian bumi secara umum,
seperti pembentukan cekungan lautan (ocean basin) dan paparan benua (continental
platform), serta bentuk-bentuk struktur yang lebih kecil dari yang disebut
diatas, seperti plain, plateau, mountain dan sebagainya.
Lobeck (1939) dalam bukunya “Geomorphology: An
Introduction to the study of landscapes”. Landscapes yang dimaksudkan
disini adalah bentangalam alamiah (natural landscapes). Dalam
mendiskripsi dan menafsirkan bentuk-bentuk bentangalam (landform
atau landscapes) ada tiga faktor yang diperhatikan dalam
mempelajarigeomorfologi, yaitu: struktur, proses dan stadia. Ketiga faktor
tersebut merupakan satu kesatuan dalam mempelajari geomorfologi.
Ahli geolomorfologi mempelajari bentuk bentuk
bentang alam yang dilihatnyadan mencari tahu mengapa suatu bentangalam terjadi,
Disamping itu juga untuk mengetahui sejarah dan perkembangan suatu bentangalam,
disamping memprediksi perubahan perubahan yang mungkin terjadi dimasa mendatang
melalui suatu kombinasi antara observasi lapangan, percobaan secara fisik dan
pemodelan numerik.
Sejarah
Singkat Teori Geomorfolgi
Pengetahuan
tentang geomorfologi, sebagaimana juga ilmu-ilmu lainya dimulai dengan
munculnya pakar-pakar filsafat Yunani dan Romawi. Herodotus (485-425 SM) yang
dikenal sebagai Bapak Geografi di kenal pula mempunyai pikiran tentang
geomorfologi, termasuk perubahan permukaan air laut sebagai salah satu gejala
yang ia perhatikan di Mesir.
Kemudian
banyak pula pakar filsafat lain yang menyinggung tentang geomorfologi seperti
Aristoteles, Strabo,dan Seneca yang kesemuanya akhirnya menerangkan
gejala-gejala alam sebagai suatu kutukan Tuhan yang dikenal sebagai Teori
Malapetaka. Kemudian konsep ini sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Orang
mulai mengenal filsafat Katastrofisma (Cuvier), yang menyatakan bahwa
gejala-gejala geomorfologis terjadi secara mendadak. Hal ini didukung beberapa
kejadian geologis yang terbentuk secara cepat sekali seperti letusan gunung
api, longsor, dan aliran lahar. Dataran-dataran menurut pendapat ini juga
terjadi secara demikian. James Hutton (1726-1797) dikenal sebagai Bapak Geologi
Modern mempunyai pendapat yang bertolak belakang dengan Teori Katasrtrofisma.
Menurutnya, proses morfologis bekerja sepanjang waktu secara perlahan tetapi
mampu membentuk bentuk-bentuk yang ada sekarang ini. Bahkan banyak perubahan
yang terjadi di masa lalu terjadi di masa sekarang dan seterusnya. Ide utama
pendapat ini dituangkannya dalam ungkapan “The present is the key to
the past”(“Masa sekarang adalah kunci membuka tabir masa lalu”).
Pada masa sekarang geomorfologi bukan hanya membahas hal-hal statis saja tetapi
juga merupakan ilmu yang dinamis yang mampu meramalkan kejdian alam sebagai
hasil interpolasi. Selain itu, bentuk roman bumi dapat dinyatakan dengan
besaran matematika seperti yang dikenal dalam Geomorfologi Kuantitatif.
Konsep Dasar Geomorfologi
10 konsep dasar dalam geomorfologi
(Thornbury, 1989) sebagai berikut :
1. “Proses fisik dan
hukum yang terjadi seluruhnya saat ini telah terjadi juga sepanjang waktu
geologi, meskipun intensitasnya tidak sama seperti sekarang”.
2. “Struktur
geologi adalah salah satu pengontrol dominan dalam evolusi pada bentang alam
dan tercermin pada daratan tersebut”.
3. “Banyak relief
permukaan Bumi karena proses geomorfologi berlangsung pada kecepatan yang
berbeda”.
4. “Proses geomorfologi
meninggalkan jejak khusus pada bentang alam, dan setiap proses geomorfologi
menghasilkan karakter yang terkumpul pada pembentukan muka bumi”.
5. “Karena agen
erosional berbeda pada permukaan Bumi, maka akan menghasilkan urutan yang
sesuai dengannya pada bentang alam”.
6. “Kompleksitas
dari evolusi geomorfologi lebih lazim dibandingkan dengan yang
sederhana”.
7. “Sedikit
topografi Bumi lebih tua daripada Tersier dan kebanyakan tidak ada yang lebih
tua daripada Pleistosen”.
8. “Interpretasi yang
tepat pada bentang alam masa kini tidak mungkin tanpa apresiasi dari
pengaruh perubahan geologi dan iklim selama Pleistosen”.
9. “Apresiasi
terhadap perubahan iklim dunia diperlukan untuk memahami secara tepat terhadap
ragam penting dari proses geomorfologi yang berbeda”.
10. “Geomorfologi tidak
hanya fokus terhadap bentang alam masa kini, tetapi juga masa lalu”.
Aspek-Aspek Geomorfologi
Menurut Verstappen (1985) ada empat aspek utama dalam analisa pemetaan
geomorfologi yaitu :
1. Morfologi yaitu
studi bentuk lahan yang mempelajari relief secara umum dan meliputi :
a). Morfografi
adalah susunan dari obyek alami yang ada dipermukaan bumi, bersifat pemerian
atau deskriptifsuatu bentuklahan, antara lain lembah, bukit, perbukitan,
dataran, pegunungan, teras sungai, beting pantai, kipas alluvial, plato, dan
lain –lain.
b). Morfometri
adalah aspek kuantitatif dari suatu aspek bentuk lahan, antara lain kelerengan,
bentuk lereng, panjang lereng, ketinggian, beda tinggi, bentuk lembah, dan pola
pengaliran.
2.
Morfogenesa yaitu asal usul pembentukan dan perkembangan bentuk lahan
serta proses – proses geomorfologi yang terjadi, dalam hal ini adalh struktur
geologi, litologi penyusun dan proses geomorfologi merupakan perhatian yang
penuh. Morfogenesa meliputi :
a).
Morfostruktur pasif yaitu bentuk lahan yang diklasifikasikan berdasarkan tipe
batuan maupun struktur batuan yang ada kaitannya dengan denudasi misalnya mesa,
cuesta, hogback and kubah.
b).
Morfostruktur aktif yaitu berupa tenaga endogen seperti pengangkatan, perlipatan
dan pensesaran. Dengan kata lain, bentuk lahan yang berkaitan erat
dengan hasil gaya endogen yang dinamis termasuk gunung api, tektonik (lipatan
dan sesar), missal : Gunugapi, punggungan antiklin dan gawir sesar.
c). Morfodinamik
yaitu berupa tenaga eksogen yang berhubungan dengan tenaga air, es,
gerakan masa dan kegunungapian. Dengan kata lain, bentuk lahan yang berkaitan
erat dengan hasil kerja gaya eksogen ( air, es, angin, dan gerakan tanah),
missal gumuk pasir, undak sungai, pematang pantai, lahan kritis.
3.
Morfokronologi merupakan urutan bentuk lahan atau hubungan aneka ragam
bentuklahan dan preosesnya yang ada dipermukaan bumi sebagai hasil dari proses
geomorfologi. Penekanannya pada evolusi (ubahangus) pertumbuhan bentuk lahan.
4. Morfokonservasi adalah
hubungan antara bentuk lahan dan lingkungan atau berdasarkan parameter bentuk
lahan, seperti hubungan antara bentuk lahan dengan unsur bentuk lahan seperti
batuan, struktur geologi, tanah, air, vegetasi dan penggunaan lahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar