Kamis, 08 Maret 2018

KONSEP DASAR DAN ASPEK-ASPEK GEOMORFOLOGI


KONSEP DASAR DAN ASPEK-ASPEK GEOMORFOLOGI
MATA KULIAH
 GEOMORFOLOGI





DISUSUN OLEH :
I KADEK AGUNG TIRTAYASA
471 417 023

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2018






    Pengertian Geomorfologi

Geomorfologi merupakan ilmu tentang roman/bentuk muka bumi beserta aspek-aspek  yang mempengaruhinya. Kata Geomorfologi (Geomorphology) berasal bahasa Yunani, yang terdiri dari tiga kata yaitu:Geos (erath/bumi), morphos (shape/bentuk), logos (knowledge atau ilmu pengetahuan). Berdasarkan dari kata-kata tersebut, maka pengertian geomorfologi merupakan pengetahuan tentang bentuk-bentuk permukaan bumi.
Menurut Worcester (1939), geomorfologi merupakan diskripsi dan tafsiran dari bentuk roman muka bumi. Definisi Worcester ini lebih luas dari sekedar ilmu pengetahuan tentang bentangalam (the science of landforms), sebab termasuk pembahasan tentang kejadian bumi secara umum, seperti pembentukan cekungan lautan (ocean basin) dan paparan benua (continental platform), serta bentuk-bentuk struktur yang lebih kecil dari yang disebut diatas, seperti plain, plateau, mountain dan sebagainya.
Lobeck (1939) dalam bukunya “Geomorphology: An Introduction to the study of landscapes”. Landscapes yang dimaksudkan disini adalah bentangalam alamiah (natural landscapes). Dalam mendiskripsi dan menafsirkan bentuk-bentuk bentangalam (landform atau landscapes) ada tiga faktor yang diperhatikan dalam mempelajarigeomorfologi, yaitu: struktur, proses dan stadia. Ketiga faktor tersebut merupakan satu kesatuan dalam mempelajari geomorfologi.
Ahli geolomorfologi mempelajari bentuk bentuk bentang alam yang dilihatnyadan mencari tahu mengapa suatu bentangalam terjadi, Disamping itu juga untuk mengetahui sejarah dan perkembangan suatu bentangalam, disamping memprediksi perubahan perubahan yang mungkin terjadi dimasa mendatang melalui suatu kombinasi antara observasi lapangan, percobaan secara fisik dan pemodelan numerik.



    Sejarah Singkat Teori Geomorfolgi

        Pengetahuan tentang geomorfologi, sebagaimana juga ilmu-ilmu lainya dimulai dengan munculnya pakar-pakar filsafat Yunani dan Romawi. Herodotus (485-425 SM) yang dikenal sebagai Bapak Geografi di kenal pula mempunyai pikiran tentang geomorfologi, termasuk perubahan permukaan air laut sebagai salah satu gejala yang ia perhatikan di Mesir.
            Kemudian banyak pula pakar filsafat lain yang menyinggung tentang geomorfologi seperti Aristoteles, Strabo,dan Seneca yang kesemuanya akhirnya menerangkan gejala-gejala alam sebagai suatu kutukan Tuhan yang dikenal sebagai Teori Malapetaka. Kemudian konsep ini sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Orang mulai mengenal filsafat Katastrofisma (Cuvier), yang menyatakan bahwa gejala-gejala geomorfologis terjadi secara mendadak. Hal ini didukung beberapa kejadian geologis yang terbentuk secara cepat sekali seperti letusan gunung api, longsor, dan aliran lahar. Dataran-dataran menurut pendapat ini juga terjadi secara demikian. James Hutton (1726-1797) dikenal sebagai Bapak Geologi Modern mempunyai pendapat yang bertolak belakang dengan Teori Katasrtrofisma. Menurutnya, proses morfologis bekerja sepanjang waktu secara perlahan tetapi mampu membentuk bentuk-bentuk yang ada sekarang ini. Bahkan banyak perubahan yang terjadi di masa lalu terjadi di masa sekarang dan seterusnya. Ide utama pendapat ini dituangkannya dalam ungkapan “The present is the key to the past”(“Masa sekarang adalah kunci membuka tabir masa lalu”). Pada masa sekarang geomorfologi bukan hanya membahas hal-hal statis saja tetapi juga merupakan ilmu yang dinamis yang mampu meramalkan kejdian alam sebagai hasil interpolasi. Selain itu, bentuk roman bumi dapat dinyatakan dengan besaran matematika seperti yang dikenal dalam Geomorfologi Kuantitatif.



Konsep Dasar Geomorfologi

10 konsep dasar dalam geomorfologi (Thornbury, 1989) sebagai berikut :
1. “Proses fisik dan hukum yang terjadi seluruhnya saat ini telah terjadi juga sepanjang waktu geologi, meskipun intensitasnya tidak sama seperti sekarang”.
2.  “Struktur geologi adalah salah satu pengontrol dominan dalam evolusi pada bentang alam dan tercermin pada daratan tersebut”.
3.  “Banyak relief permukaan Bumi karena proses geomorfologi berlangsung pada kecepatan yang berbeda”.
4. “Proses geomorfologi meninggalkan jejak khusus pada bentang alam, dan setiap proses geomorfologi menghasilkan karakter yang terkumpul pada pembentukan muka bumi”. 
5. “Karena agen erosional berbeda pada permukaan Bumi, maka akan menghasilkan urutan yang sesuai dengannya pada bentang alam”.
6. “Kompleksitas dari evolusi geomorfologi lebih lazim dibandingkan dengan yang sederhana”. 
7. “Sedikit topografi Bumi lebih tua daripada Tersier dan kebanyakan tidak ada yang lebih tua daripada Pleistosen”.
8. “Interpretasi yang tepat pada bentang alam  masa kini tidak mungkin tanpa apresiasi dari pengaruh perubahan geologi dan iklim selama Pleistosen”. 
9. “Apresiasi terhadap perubahan iklim dunia diperlukan untuk memahami secara tepat terhadap ragam penting dari proses geomorfologi yang berbeda”.
10. “Geomorfologi tidak hanya fokus terhadap bentang alam masa kini, tetapi juga masa lalu”.
  
                                     



             Aspek-Aspek Geomorfologi      
                                 
   Menurut Verstappen (1985) ada empat aspek utama dalam analisa pemetaan geomorfologi yaitu :
1. Morfologi yaitu studi bentuk lahan yang mempelajari relief secara umum dan meliputi :
a). Morfografi adalah susunan dari obyek alami yang ada dipermukaan bumi, bersifat pemerian atau deskriptifsuatu bentuklahan, antara lain lembah, bukit, perbukitan, dataran, pegunungan, teras sungai, beting pantai, kipas alluvial, plato, dan lain –lain.
b). Morfometri adalah aspek kuantitatif dari suatu aspek bentuk lahan, antara lain kelerengan, bentuk lereng, panjang lereng, ketinggian, beda tinggi, bentuk lembah, dan pola pengaliran.
2. Morfogenesa yaitu asal usul pembentukan dan perkembangan bentuk lahan serta proses – proses geomorfologi yang terjadi, dalam hal ini adalh struktur geologi, litologi penyusun dan proses geomorfologi merupakan perhatian yang penuh. Morfogenesa meliputi :
a). Morfostruktur pasif yaitu bentuk lahan yang diklasifikasikan berdasarkan tipe batuan maupun struktur batuan yang ada kaitannya dengan denudasi misalnya mesa, cuesta, hogback and kubah.
b). Morfostruktur aktif yaitu berupa tenaga endogen seperti pengangkatan, perlipatan dan pensesaran. Dengan kata lain, bentuk lahan yang berkaitan erat dengan hasil gaya endogen yang dinamis termasuk gunung api, tektonik (lipatan dan sesar), missal : Gunugapi, punggungan antiklin dan gawir sesar.
c).  Morfodinamik yaitu berupa tenaga eksogen yang berhubungan dengan tenaga air, es, gerakan masa dan kegunungapian. Dengan kata lain, bentuk lahan yang berkaitan erat dengan hasil kerja gaya eksogen ( air, es, angin, dan gerakan tanah), missal gumuk pasir, undak sungai, pematang pantai, lahan kritis.
3. Morfokronologi merupakan urutan bentuk lahan atau hubungan aneka ragam bentuklahan dan preosesnya yang ada dipermukaan bumi sebagai hasil dari proses geomorfologi. Penekanannya pada evolusi (ubahangus) pertumbuhan bentuk lahan.
4. Morfokonservasi adalah hubungan antara bentuk lahan dan lingkungan atau berdasarkan parameter bentuk lahan, seperti hubungan antara bentuk lahan dengan unsur bentuk lahan seperti batuan, struktur geologi, tanah, air, vegetasi dan penggunaan lahan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar